Selasa, 23 Mei 2017

Siklus Rankine

Siklus Rankine
Siklus Rankine adalah sebuah siklus yang mengkonversi energi panas menjadi kerja / energi gerak. Dikembangkan oleh William John Macquorn Rankine pada abad ke-19 dan sejak saat itu banyak diaplikasikan pada mesin-mesin uap. Saat ini, siklus rankine digunakan pada pembangkit-pembangkit listrik dan memproduksi 90% listrik dunia.
Siklus Rankine

Diagram Temperatur-Entalpi
Air menjadi fluida kerja siklus rankine dan mengalami siklus tertutup (close-loop cycle) artinya secara konstan air pada akhir proses siklus masuk kembali ke proses awal siklus. Pada siklus rankine, air ini mengalami empat proses sesuai dengan gambar di atas, yaitu:
  1. Proses C-D: Fluida kerja / air dipompa dari tekanan rendah ke tinggi, dan pada proses ini fluida kerja masih berfase cair sehingga pompa tidak membutuhkan input tenaga yang terlalu besar. Proses ini dinamakan proses kompresi-isentropik karena saat dipompa, secara ideal tidak ada perubahan entropi yang terjadi.
  2. Proses D-F: Air bertekanan tinggi tersebut masuk ke boiler untuk mengalami proses selanjutnya, yaitu dipanaskan secara isobarik (tekanan konstan). Sumber panas didapatkan dari luar seperti pemb, solar, atau juga reaksi nuklir. Di boiler air mengalami perubahan fasa dari cair, campuran cair dan uap, serta 100% uap kering.
  3. Proses F-G: Proses ini terjadi pada turbin uap. Uap air kering dari boiler masuk ke turbin dan mengalami proses ekspansi secara isentropik. Energi yang tersimpan di dalam uap air dikonversi menjadi energi gerak pada turbin.
  4. Proses G-C: Uap air yang keluar dari turbin uap masuk ke kondensor dan mengalami kondensasi secara isobarik. Uap air diubah fasenya menjadi cair kembali sehingga dapat digunakan kembali pada proses siklus.
Gambaran siklus melalui diagram T-S di atas adalah siklus rankine yang paling dasar dan sederhana. Pada penggunaannya ada beberapa modifikasi proses sehingga didapatkan efisiensi termal total yang lebih tinggi. Seperti penggunaan preheater atau pemanasan awal sebelum masuk boiler, dan juga penggunaan pemanasan ulang uap air yang keluar dari turbin pertama (high pressure turbine) sehingga dapat digunakan lagi untuk masuk ke turbin kedua (intermediate pressure turbine). Untuk lebih mudah memahaminya dapat kita lihat skema prosesnya pada gambar di bawah ini. 
         
Siklus Rankine Dengan Preheater dan Reheater
Pada gambaran di atas, air kondensat yang dipompa oleh pompa ekstraksi kondensat dari kondensor menuju ke deaerator/Feed Water Tank mengalami proses preheating. Dan air yang dipompa oleh Feed Water Pump dari Feed Water Tank menuju boiler juga melewati preheater. Sumber panas yang digunakan oleh preheater tersebut berasal dari extraction steam yang diambil dari turbin uap pada stage-stage tertentu.
Diagram Temperatur-Entropi Untuk Modifikasi Siklus Rankine
Selain itu perbedaan yang lain dengan siklus rankine konvensional adalah adanya pemanasan kembali uap air yang keluar dari turbin pertama (High Pressure Turbine) oleh boiler reheater untuk kembali mendapatkan fase superheater dan hasilnya kembali dimasukkan ke turbin kedua (Intermediate Pressure Turbine).
Selain itu juga ada sistem bypass uap air untuk tidak dilewatkan ke turbin uap. Uap superheater yang keluar dari boiler tidak masuk ke turbin dan di-bypass masuk kembali ke boiler sisi reheater. Dan uap yang keluar dari boiler reheater di-bypass untuk masuk langsung ke kondensor. Fungsi dari sistem bypass ini adalah sebagai sistem proteksi apabila terjadi suatu masalah di siklus rankine tersebut sehingga dapat terhindar dari kerusakan yang parah. Dan juga digunakan pada saat proses penyalaan awal sistem siklus tersebut dan jua proses mematikannya

Senin, 22 Mei 2017

Pengertian PS, HP, BHP, PK dan DK Di Dunia Otomotif



Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form
Pengertian PS, HP, BHP, PK dan DK Di Dunia Otomotif

http://go.padsdel.com/lg.php?bannerid=814773&campaignid=216496&zoneid=18495&loc=http%3A%2F%2Fpertamax.mywapblog.com%2Fpengertian-ps-hp-bhp-pk-dan-dk-di-dunia.xhtml&referer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&cb=86afd47018
Assalamu alaikum wr.wb.
Kali ini saya akan memposting tentang apa yang di maksud dengan PS , HP, BHP, PK dan DK di dunia otomotif.
10513dk1.jpg
Tenaga mesin dengan satuan daya kuda (dk) paling banyak terdengar di dunia otomotif. Istilah ini berasal dari James Watt, ilmuwan abad 19 asal Skotlandia yang menemukan bahwa pada masa itu, seekor kuda poni miliknya rata-rata mampu mengangkat beban seberat 550 pounds (249,4 kg) sejauh 1 kaki (30,48 cm) per detik. Dari 550 pounds dikali 60 detik lalu keluarlah angka sebesar 33.000 foot pounds per min (ft lbs/ min)m, istilah inilah yang lalu disebut 1 horse power (daya kuda).
10513dk2.jpg
Seiring perkembangan zaman, penyebutan Horse Power (hp) berlaku untuk Amerika dan Inggris. Sedang penyebutan di negara lain berbeda satu sama lain seperti Belanda dengan istilah paarden kracht (pk), Jerman dengan Pferdestarke (PS). Indonesia sendiri mengartikannya dengan daya kuda (dk).
10513dk3.jpg
Beda cara penyebutan, namun memiliki maksud sama. Ada juga isilah bhp (brake horse power) yang berarti keluaran tenaga murni mesin tanpa mempertimbangkan kehilangan tenaga akibat alternator, AC, termasuk transmisi dan kopling.
Namun agar lebih seragam dan tidak membingungkan, sekarang ini diputuskan bahwa 1 hp sama dengan. 7746 watt walau tidak semua negara langsung mengadopsinya. Misal tenaga mesin mencapai 100 dk, artinya tenaga tersebut sama dengan 74.600 watt. Torsi sendiri merupakan satuan tenaga yang sebenarnya untuk mengukur gaya puntir. Contohnya torsi sebesar 1 Nm adalah gaya puntir yang dibutuhkan untuk menopang beban sebesar satu pound pada sebuah bidang horizontal tanpa bobot sejauh 1 foot dari pusat.
Sesungguhnya, saat mengukur tenaga mesin pada mesin dynamometer, yang diukur ialah besaran torsinya. Baru setelah itu dikonversi ke daya kuda. Rumusnya daya kuda = (torsi x putaran mesin)/5252. Jadi dk ialah satuan yang digunakan untuk mengukur daya yang dihasilkan oleh torsi tersebut pada putaran mesin tertentu. Lalu apakah yang lebih berpengaruh untuk kondisi pengendaraan sehari-hari? Tentu tergantung cara berkendara masing-masing.
Dengan kata lain, dalam arti yang mudah, torsi menetukan kemampuan akselerasi kendaraan, sedangkan tenaga mesin lebih menentukan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Bayangkan, sebuah truk dan sportscar yang masing-masing bertenaga sama 1.000 dk. Tanpa mempertimbangkan bobot kendaraan, sebuah truk tentu akan lebih kuat mengangkut beban berat dengan kecepatan rendah daripada sporstcar yang lebih mementingkan pencapaian top speed.
Perumpamaan sederhana ketika kita mengayuh sepeda, saat start awal pedal terasa berat (torsi besar), namun begitu sudah berjalan dengan kecepatan tinggi (tenaga mesin), kekuatan kayuhan tentu sudah jauh berkurang. Begitu pula saat memilih mobil baru, saat membaca brosur perhatikan keseimbangan besaran torsi dengan tenaga yang dihasilkan oleh mesin.
Penjelasan lebih lanjut...
DK = Daya Kuda ( bahasa indonesia ) Besarnya daya yang dapat dihasilkan oleh putaran roda kendaraan.
PS = Pferdestarke ( bahasa Jerman ) Jika dalam bahasa indonesia Kuat Kuda/tenaga kuda
HP = Horse Power ( bahasa Inggris )
BHP = brake horse power (bahasa Inggris) Besarnya daya yang dapat dihasilkan langsung dari putaran yang dikeluarkan oleh mesin.
PK : Paarden Kracht ( bahasa Belanda ) Jika dalam bahasa indonesia artinya daya kuda.
1 HP tidak sama persis dengan 1 PS
1 PS = 0.986320070619514 HP atau 1 HP = 1.01386966542402 PS
Perbedaan tersebut hanya masalah konversi dan kebiasaan penggunaan satuan daya saja. Ilmuan Jerman dan Negara eropa lainnya lebih suka pakai satuan PS, sedangkan Amerika dan Inggris umumnya pakai satuan HP.
Tapi kalo BHP vs HP atau BHP vs PS jelas beda. bukan masalah konversi satuan lagi, tapi beda di titik pengukuran. Kalau BHP itu mengukurnya langsung di mesin atau dari poros kruk as, sedangkan PS dan HP pengukurnya dari putaran roda. Dengan BHP kita akan mengetahui tenaga murni sebuah mesin tanpa adanya loss power karena kerugian gesekan ban, girboks transmisi dsb. Selain tenaga mesin, ada juga torsi mesin. Satuan-satuan torsi yang lazim kita temui yaitu Nm, Kgf.m & lbf.ft.

Berikut Perbandingannya

- 1 HP = 0,735 KW
- 1 KW = 1,34 HP
- 1 PS / PK = 0,98 HP
- 1 PS / PK = 0,74 KW
- 1 KW = 1,36 PS
- 1 HP = 1,01 PS

- 1 Nm = 0,74 lbf.ft
- 1 Nm = 0,1 Kgf.m
- 1 lbf.ft = 0,14 Kgf.m
- 1 Kgf.m = 7,23 lbf.ft
Sumber : Majalah Otomotif

Rabu, 11 November 2015

Mk. Proses Produksi

Mk. Proses Produksi
Topik Bahasan: Mesin Bubut (Lathe/Turning Machine)
a.Pembubutan Muka (Facing)
b.Pembubutan Longitudinal
c.Profil Tirus


JENIS SENSOR DAN CARA KERJA BERIKUT CONTOH APLIKASINYA




1. Sensor gerak (PIR)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm_kV-nArMOMic0LjrytT-CCogkdbAjFwVI1r_M08niphRYxJzoS_yK_CWtpQDUSpxcZ8ANCtIOta9BhdbQDBJhew2upJmpgiCbyjLKjBY4nVngjolxPQwZcZ2V9uugQ6QWSIULqOsY-yw/s200/Cara+kerja+sensor+pir.JPG

 Sensor gerak atau PIR mempunyai dua bagian utama. Bagian yang pertama pemancar infrared, sedangkan bagian yang kedua yaitu penerima. Bila alat sensor ini ada yang melewatinyan bagian pemancar akan mengirim tanda atau sinyal ke bagian penerima. Selanjutnya, penerima akan memberi perintah pada alat lainnya. Misalnya membuka pintu atau mengeluarkan suara, tergantung system aplikasi yang diterapkan.
Contoh aplikasi :
  Pintu yang bisa membuka sendiri secara otomatis Jika ada yang lewat atau masuk maupun keluar. Alat sensor tersebut melakukan deteksi terhadap suatu gerakan yang disebut Namanya adalah PIR (Passive Infrared Sensor)

2. RTD (Resistance Temperature Detectors)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhn03MidFQJVgBt96MEqwkN-0wtQtbemK6fEMbGt8pt6W1QBxn5QxjzEUUw6D5neHR9Uxzsx-AHfotcq4G6Uaahxy0UhnrDe0jBlcfkeBNEi77Xnd8cgMKa3Kd0YDDozhe2v_89FizYfDp_/s200/RTD.png

  Bila RTD berada pada suhu kamar maka beda potensial jembatan adalah 0 Volt. Keadaan ini disebut keadaan setimbang. Bila suhu RTD berubah maka resistansinya juga berubahsehingga jembatan tidak dalam kondisi setimbang. Hal ini menyebabkan adanya bedapotensial antara titik A dan B. Begitu juga yang berlaku pada keluaran penguat diferensial.
Contoh Aplikasi :
  Pada proses pengontrolan temperatur di line fuel gas (pipa berbahan bakar gas) ini diperlukan pengontrolan (pengendalian) temperatur agar suhu yang ada pada pipa tersebut selalu dalam keadaan stabil sehingga dapat dijadikan bahan bakar kompresor. Uap gas (vapour) yang dihasilkan dari produk drum akan di panaskan di Heat Exchanger sehingga uap gas tersebut dapat dijadikan bahan bakar kompressor. Alat yang digunakan untuk mengontrol temperatur uap gas, merupakan salah satu peralatan atau instrument pabrik. Apabila alat ini tidak beroperasi maka temperatur yang diinginkan tidak akan tercapai sehingga kompressor tidak dapat bekerja dan pabrik tidak dapat beroperasi secara normal dan secara otomatis produksi pabrik pun menjadi berkurang. Untuk itu digunakan instrumen pengukur temperatur yaitu Resistance Temperature Detector (RTD) yang berperan mengawasi dan mengontrol temperatur gas. RTD ini bekerja berdasarkan perbandingan perubahan temperatur dengan besaran tahanan listrik dari logam yang terdapat pada sensor RTD tersebut, dan jenis logam yang sering digunakan adalah platina (Pt100).
3. Sensor Suhu (Thermokopel)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8NSQCjDFjR8XElcgJoIuh1bC8vEVr51wq3fVo1Zj1NzqlgLhQkN14C5hPpQp5_otj8KEvk_qoBMbjzHGpIHDgsRhtqLYQH9Gs7CpfQGjtTVkAGW8J11YGckdXppCoP4MsfNvbsH1fFe9s/s320/thermokopel.png
   Jika salah satu pangkal lilitan dipanasi, maka pada kedua ujung penghantar yang lain akan muncul beda potensial (emf). Thermokopel ditemukan oleh Thomas Johan Seebeck pada tahun 1820. Tegangan keluaran emf (elektro motive force) thermokopel masih sangatrendah, hanya beberapa milivolt. Thermokopel bekerja berdasarkan perbedaan pengukuran. Oleh karena itu jika ukntuk mengukur suhu yang tidak diketahui, terlebih dulu harus diketahui tegangan Vc pada suhu referensi (reference temperature). Bila thermokopel digunakan untuk mengukur suhu yang tinggi makaa akan muncul tegangan sebesar Vh. Tegangan sesungguhnya adalah selisih antara Vc dan Vh yang disebut net voltage (Vnet).

Contoh Aplikasi :
· Industri besi dan baja
· Pengaman pada alat-alat pemanas
· Untuk termopile sensor radiasi
· Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi termopile

4. Sensor Suhu (IC IM35)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVL0gCoDZ6q2WQxUgcecWaUHc9Yk8-PReaX_8nhtgX4RZbauJENVz4kGrpDKGVlJXbtUDW364CzvTxYal8n_CL0xI-r4_AHRDbSXXj4-vTgh9Z1j3RwxsnqKxvHVCY34sB7YwiUmdRsykC/s1600/IC.png

      Tegangan keluaran rangkaian betaambah 10 mV/0C. Dengan memberikan tegangan referensi negtif (-Vs) Dengan memberikan tegangan referensi negatif (-Vs) pada rangkaian, sesor ini mampu bekerja pada rentang suhu -550C – 1500C. Tegangan keluaran dapat diatur 0 V pada suhu 00C dan ketelitian sensor ini adalah ±10C.

Contoh Aplikasi : 
Sistem monitoring suhu ruangan pada laboratorium kimia, sistem monitoring suhu rumah kaca.

5. Sensor Suhu (Thermistor)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyXdMY_qATnHda1M7zpC_XwiNvU-tzJUTAZIAWVgBFpaz79p86FzLkvERWPMsdQyFdGrdjdJGfR2MV6EawEzzePL8MjDmJSvdLqqsMG2w38ScNlTj3wrLfItScxjuOnNQ_myCBMYuEfcCl/s200/rangkaian+alarm+sensor+suhu+dengan+thermistor.jpg

        Mengubah suhu menjadi resistansi atau hambatan listrik yang berbanding terbalik dengan perubahan suhu. Semakin tinggi suhu, semakin kecil resistansinya.
Contoh Aplikasi :

     Aplikasi thermistor pada otomotif adalah pada Sensor IAT (Intake Air Temperature) Sensor ini medeteksi temperatur udara masuk ke engine dengan mengunakan thermistor.

6. Bimetallic Temperature Sensor
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFSQlqhlKuXMoT__I9hPrfOykNvNAAjsFBsYRcwF8rq30wFMH8JB84JBVo5bAq35ocyyw-4e8qEVmh8Y8cCKm04h436yEMcHzEB1dCP3Mtk0sJ-ghqJbuuD6cRie_GXYe-GC02krFvznKU/s200/bimetallic_strip.jpg
        Sensor ini mengubah mampu besaran suhu menjadi gerakan. sensor ini terbuat dari dua buah logam yang disatukan atau direkatkan menjadi satu. Cara kerja dari sensor ini adalah setiap logam kan mempunyai koefisien muai yang berbeda-beda maka jika dua buah logam yang memiliki koefisien muai yang bebeda disatukan maka gabungan kedua logam itu akan melengkung jika dipanasi. Karena sifatnya yang bisa melengkung jika terkena panas maka bimetal ini sering dipakai sebagai saklar suhu otomatis atau sebagai alat ukur suhu yang analog. 
Contoh Aplikasi :
        Salah satu aplikasi dari Bimetallic temperature sensor ini adalah pada setrikaan listrik pada setrika jika suhu melebihi batas yang telah ditentukan maka setrika akan mati sendiri dan akan ada bunyi "tik", itu sebenarnya adalah Bimetallic temperature sensor yang sedang melengkung. Disini bimetal berfungsi sebagai saklar suhu otomatis yang akan memutus kontak listrik jika suhu setrika melebihi batas yang ditentukan. 

7. Sensor Ultrasonic
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5PYL8QmHYcBpzmvl4I6dGwBcCXxqay_kjARC_3CW_CdHRSYfYkL9t3LmRJbgPGhObOHLsjrmfEbo_KND1WSkhsEz2etaxrqXEraF6928eKbtBo8ssbYnIUS5Lcp5eki4c2HYsHgXzizu3/s320/ultra.jpg
      Sensor ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaannya. Perbedaan waktu antara gelombang suara dipancarkan dengan ditangkapnya kembali gelombang suara tersebut adalah berbanding lurus dengan jarak atau tinggi objek yang memantulkannya. Jenis objek yang dapat diindera diantaranya adalah: objek padat, cair, butiran maupun tekstil.

Contoh Aplikasi :

     Sensor ultrasonic banyak digunakan di berbagai perangkat pengukur jarak. sebagai contoh di dunia robotika sensor ini digunakan sebagai indra utama untuk navigasi robot. sebagai contoh tipe ultra sonic yang banyak digunakan adalah tipe SRF, dan PING pada perinsipnya sensor jarak ultra sonic menggunakan prinsip kerja yang sama, yaitu pngirim sinyal dan penerima sinyal (transmitter and receiver). sensor ini bekerja pada frequency 40 Khz.

8. Sensor Penyandi (Encoder)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglK1KVhDvGuDDeRzWIeeldWPmUNvMA3rbjTpca8p9ywUhPmfjWuuJfQRCucAoQ9aGov__PtbAujcuYiuyH0nM4OKuwE1cR1N2sdgMJ4Phlg4yKqUEMt66SC8CRXIxiKGab_6eQ7gzWLx0m/s1600/encoder.gif


      Sensor ini adalah saat rangkaian sumber cahaya diberi VCC 5 Volt dan menghasilkan cahaya, cahaya masuk pada photodioda tidak terhalangi maka akan menghasilkan tegangan 5V dan begitu juga sebaliknya saat terhalangi maka akan menghasilkan tegangan 0V. Dimana tegangan menjadi inputan untuk mikrokontroler.

Contoh Aplikasi :

     Salah satu aplikasi rotary encoder sebagai sensor posisi digunakan pada Mouse Analog (Mouse yang menggunakan Bola). Kurang lebih Tiga buah Rangkaian Sensor Posisi menggunakan Rotary Encoder.


9. Sensor Level (Silo Pilot)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgePd0Y6cYTcHtQIOjSbyn7xQrzG60w7A6ZYPccRMNiD7D2eE5KNzNNjy-LedutsEamXzRBUkoIZ7XttCOsCE3pzHjyF49J1YUhXBMOJoeN9_d2WVyMRMMaR0MyTFYk53dVC0TjPOEFAcVe/s1600/gambar+silo+pilot+untuk+sensor+level+industri.png

     Sensor Level ini akan menurunkan bandulnya dengan timing tertentu kemudian jika bandul tersebut menyentuh material maka bandul akan naik kembali. Dan Level ketinggian material bisa diketahui dari Panjang bandul yang diturunkan tersebut. Bisa juga diperintahkan dari Pusat Kontrol untuk memberikan Command ke Controller jika ingin melakukan pengukuran material menggunakan SiloPilot ini.
Contoh Aplikasi :

    Penggunaan sensor level di pabrik semen biasanya di pasang di bin material, Silo ataupun untuk mengetahui ketinggian/volume tandon air (water treatment). Silo pilot cocok untuk pengukuran level di pabrik semen  karena selain cukup handal sensor ini juga baik untuk pengukuran material bulk seperti semen.
10. Sensor Level (Level Switch)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlqLyP1XNjtR1O24eFxq5AisnwdwO1FIMIfCSiEJkun8mSPOiHRRqEo5gmT6x705gmqwSU_ND0H69gf-2807qQSAKRzXpZ9zxhxtM8aa8eWnH3QXXzV77ohQQtfrVcPThyphenhyphenhWsl4v5b8lXm/s320/Sensor+level+switch+pabrik+semen.jpg

       Sensor  level switch ini cukup sederhana, sensor ini cuman melakukan pensaklaran biasa, apabila material semen kontak dengan sensor sehingga switch tertekan maka kita cukup menghubungkan kaki NO/NC nya dengan tegangan signal baik itu 24 VDC atau 220 VAC, yang kemudian signal kita dapat teruskan ke controller (PLC/DCS).

      Contoh Aplikasi :

       Sama seperti sensor silo pilot, penggunaan sensor level switch ini biasa di gunakan di pabrik semen. tetapi di bandingkan silo pilot, sensor level switch ini masih kalah.